Kalau trinity adalah the naked traveler, seorang backpacker cewe yang sudah keliling dunia, maka kami adalah the nekad traveler, kumpulan cewe-cewe kresekers yang baru belajar keliling negeri.
What ?? Kresekers?? Apaan tuh? Yup.. itu nama yang tanpa sengaja tercipta, selain karena sering nenteng –nenteng kantong plastik kresek logistik, kita juga ngerasa bukan golongan koper atau ransel tapi KW 3 nya lah… ya itu tadi, kresekers. Intinya mah kita nga bisa jauh-jauh dari kresek yang multi fungsi itu, bisa memuat pakaian kotor, makanan, barang bawaan yang lain atau fungsi lainnya yang tak kalah penting; yaitu untuk nampung ‘huweks’ …who knows? Siapa hidung..?
Well, sesuai hasil briefing, perjalanan enam kresekers (Lya, Antie, Fika, Ryan, Erma & Yeti) akan bertolak menuju teluk Kiluan di daerah Lampung Selatan pada hari Kamis, 21 April 2011, berkumpul jam 20.00 di terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Meski awalnya gw sedikit ragu dengan kondisi cuaca yang rada ga bisa ditebak, antara panas dan hujan yang kadang turun terus menerus, akhirnya dengan semangat yang membara dari teman-teman, gw jadi mantap untuk berangkat.
Di hari ‘H’ …Gw dan Erma sampai di terminal Pulogadung 50 menit terlambat dari waktu yang kita sepakati, muacetnya puol. Antie, Lya & Ryan sudah stand by duluan. Ternyata menurut Antie, penyebab kemacetan adalah kebakaran. Duh, pantesan gw liat mobil-mobil pada baris di tol … nga gerak sama sekali. Gw yang udah mencium gelagat kurang baik dari suasana kota, langsung berstrategi untuk tidur, saving my energy lah. Lucunya setiap kali gw terbangun, posisi kendaraan belum mengalami banyak perubahan, masih di wilayah yang kurang lebih sama. Ehm, Jakarta.. Jakarta..akhirnya kita ikut terkena imbasnya, jadi korban macet dalam perjalanan Pulogadung – Merak. Kami menghabiskan waktu kurang lebih 5-6 jam untuk jarak tempuh 120 km. Huh.. dasar macet biadab..!!
Tiba di Pelabuhan Merak jam 3, Jum’at dini hari, kita langsung beli tiket kelas ekonomi. Pengalaman pertama neh, naik kapal ferry… jadi kebayang Titanic atau Awani dreams ya?? Ho ho ho… jauh beuner dari kenyataan, masa Cruise mau dibandingin ma Ferry??
Saat itu, penumpang kelas ekonomi cukup padat. Untungnya, gw sigap… dapet deh duduk di kursi plastik warna hijau persis model bangku kopaja. Deretan kursi yang berjajar ke belakang, sudah nyaris terisi semua. Asap rokok yang memenuhi hampir seluruh penjuru ruangan & suguhan video jadul tanpa suara, bikin sesak nafas dan bikin suasana nga nyaman blas..!! Tapi the kresekers nga mengeluh. Nah, mencoba cari alternative lain, Fika & Antie jalan-jalan keliling kapal, entah niatnya cari solusi atau cari kenalan, cuma mereka & Tuhan yang tahu. He he…Yang penting ada hasilnya…!! Cakep bener.. dalam hitungan detik kami sudah berada di tempat yang lebih baik, walau nga bisa di bilang nyaman sepenuhnya karena banyaknya kecoa kecil yang berkeliaran. Yah, paling tidak di kelas bisnis, kami bisa menghirup oksigen karena bebas asap rokok, ada AC plus sofa. Meskipun sebagian dari kami harus rela lesehan, karena nga semua kebagian sofa. Satu lagi kelebihan spot baru kami disini, dekat dengan TV + stop kontak, jadi bisa gonta- ganti chanel seenaknya, gedein volume, plus numpang nge- charge HP. Keren kanz? Alhamdulillah……
Pagi hari di pelabuhan Bakaheuni, kedatangan kami disambut sinar matahari yang baru saja menyapa pagi. Tanpa ba bi bu… sambil tetap jepret sana sini, kami langsung kearah pemberhentian bis terminal Bakaheuni. Niatnya siy mau sarapan dulu… tapi belum sempat ketemu makan pagi, eh bis yang menuju Terminal Rajabasa yang sarat penggemar nongol. Ya sudahlah kami berenam berebut masuk bersama penggemar bis yang lain. Buat yang sering naik busway Blok m – Kota pada saat jam kerja, kondisi seperti ini mah sudah nga asing lagi, makanan sehari-hari. Akhirnya, setelah berjibaku..tiga deret kursi paling depan, disisi kiri bis jadi tempat the kresekers.. tune in. he he…
Melewati jalan yang berliku di daerah Kalianda , perut lapar, bis penuh sesak dengan penumpang yang berdiri dengan aroma keringat tak terhindarkan lagi, membuat gw sedikit pening. Satu-satunya hiburan yang sedikit bisa mengalihkan lapar & lelah adalah pemandangan alam pantai dikiri jalan dan di kanan jalan bukit, bahkan terkadang tebing menjulang. Perumahan penduduk berada tepat di depan pantai ini. Satu hal yang masuk dan terekam dalam otak gw adalah notifikasi di pinggir jalan yang berbunyi ; “ Arah evakuasi bahaya tsunami” ditandai dengan symbol penunjuk arah kearah perbukitan. Nah lo, ngeri nga tuh??!! Untungnya gw nga sampe Parno gara-gara baca tulisan itu. Pantai Queen Artha, Pantai Klara (klapa rapat) dan beberapa lokasi wisata local, jadi pemandangan tersendiri yang hanya bisa kami nikmati dari dalam angkot. Yah, maklum ngeteng, nga bisa request untuk berhenti sebentar. Terima Naseeb aja deh…
Transportasi menuju Teluk Kiluan tidak mudah di dapat dan tidak semua orang Lampung mengenal daerah ini. Saat menyantap sarapan di daerah Kali Balok, beberapa kali kami mencoba cari informasi dengan bertanya kepada penduduk setempat. Ternyata mereka tidak tahu wilayah yang kami tuju. Memang idealnya kita menghubungi pihak pengelola Teluk Kiluan yang tertera pada beberapa situs internet, untuk bantuan transportasi, jemputan misalnya. Karena ternyata untuk menuju teluk Kiluan,tidak ada akses transportasi umum. Sementara buat yang bermodal cekak, mobil travel selain susah didapat , ongkosnya nga tanggung-tanggung , bisa menghabiskan gaji satu bulan UMR. Untungnya, the kresekers yang bermodal nekad, selalu dapat orang yang bersedia membantu. Maka dengan modal yang seminim-minimnya akhirnya kami mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. He he he.. kapanpun dimanapun hukum ekonomi musti dan harus ditegakkan. Angkutan yang membawa kami, bersedia mengantar sampai teluk Kiluan, dengan sedikit tambahan biaya & sedikit rayuan. Thanks ya bang Iwan, sang buset (buset = bujangan setia, sticker yang terpampang di mobilnya) yang sudah mengantar kami. Setelah melewati rute Bakaheuni – Kali Balok – Enggal – Pasar bawang – Teluk Kiluan dengan bis dan juga angkot, akhirnya sampailah kami pada tempat tujuan. Dari daratan negeri Kiluan, kami dijemput oleh Bp. Dirham untuk menyebrang ke Pulau Kiluan. Lokasinya dekat koq, cuma perlu waktu 10 menit dengan speed boat.
First impression about Kiluan Bay : exotic…
Daerah ini jelas, asli, masih perawan banget. Fisik dan mental kudu prima, karena memang lokasinya jauh dari peradaban, jalanan yang berkelok kelok, sedikit rusak & berlubang disana sini, turunan curam dan tanjakan terjal dengan sisi jurang dan tebing cukup mengecilkan mental. Belum lagi waktu tempuh yang sangat lama, bisa bikin bosan & melelahkan. Tapi semuanya bakal terbayar dengan pemandangan pantai & pulau yang masih alami, tidak ada sentuhan komersialisasi industri wisata disini, tidak seperti di kepulauan Seribu. Pondokan yang tersedia pun hanya satu-satunya. Wuiih… pokoknya serasa yang punya pulau deh.
Pondokan yang tersedia di Pulau Kiluan/Pulau kelapa, terdiri dari 4 kamar yang masing-masing bisa memuat 4 – 6 orang. Selain pondokan, pengelola juga menyediakan tenda bagi yang mau camping di tepi pantai. Seru juga tuh, perlu dicoba…terutama buat yang hobi kemping & ga takut debur ombak pada saat laut pasang dini hari, it’s high recommended.
Kami sudah booking satu kamar untuk ber-enam, sekalian pesan makan dengan Ibu Ema, pengelola pondok. Lumayan hemat. Untuk mandi, kita bisa pake fasilitas pondokan : sumur kerek di depan pondokan dengan penutup kayu kelapa yang disusun melintang sebatas tinggi tubuh, tanpa atap, mantap. Bisa juga menggunakan wc umum di belakang pondok. Listrik tersedia dari jam 6 sore sampe jam 1 malam.
Sore itu selepas maksiat (makan siang & sholat), the kresekers mulai berkeliling pulau, sekalian berenang di bibir pantai. Kita sempat bertemu dengan bintang laut, dan ketika gw mencoba menyelam sedikit ke tengah… ketemu ma ular belang hitam-putih yang sedang asyik berenang. Sumpah ngeri abiz.. bagusnya gw nga panik, berusaha menguasai diri dan berenang pelan ke pantai. Lemass…
Abis kejadian itu, kata teman-teman siy, tampang gw keliatan pucat. Ya iyalah, ular laut gitu loch? Jagoan juga dia kali, berenangnya. Mana gw nga pake live vest pula..!! Sebelum ini, di jalan juga gw udah ngelihat satu ular hitam yang menyebrang di depan mobil kami. Antie juga lihat ular… dan please dech jangan bilang kalo kita bakal ketemu jodoh?? Wkwkwk… padahal dalam hati, Ngarep.com.
Cerita keliling pulau berlanjut dengan sesi pemotretan. Terumbu karang yang besar-besar dengan latar pulau sebrang, jadi objek yang menarik. Narsisme memang seperti penyakit menular, epidemi nya cepat sekali meluas. So, cheeseee… katakan keju…!!
Pukul 6, sabtu pagi kami bersiap menuju sajian utama Teluk Kiluan; melihat lumba-lumba berenang di laut lepas. Setelah the kresekers memakai live vest, kami bergerak ke tepi pantai… naik jukung, perahu kecil yang bermuatan 3 – 4 orang. Dikedua sisi jukung diberi palang-palang kayu untuk penyeimbang. Dan petualanganpun dimulai….
Jukung bergerak perlahan. Baru ketika sudah menyambangi laut, guide kami, mulai menambah kecepatan. Gelombang laut lumayan tinggi, test adrenalin dimulai disini. Jukung kami bergerak ke kanan dan ke kiri. Naik turun, terombang ambing air laut melaju terus menuju laut lepas. Hati gw berdesir deras. Deg deg ser.. kebayang notification sign tsunami, bercampur animasi gelombang tinggi. Jiaah.. jipeerrr juga. Jukung lain yang juga berlayar kadang tak terlihat karena terhalang besarnya gelombang. Batu-batu karang yang ada di pinggir Pulau memecah gelombang, mencipta cipratan ombak berbuih. Kerenz…
Saat matahari bergerak naik, gelombang laut bergerak tenang. Hampir sekitar 3 jam kami berada di laut lepas, mencari dimanakah gerangan lumba-lumba berenang. Setengah desperate, sambil berdoa aku tetap pasang mata jeli mencari- cari sosok ikan jenis mamalia itu.
“Hey, ada kura-kura…!! “ teriakku seketika melihat kura-kura mendekat berenang ke jukung kami.
“Mana.. mana??? “ sahut Erma & Antie.
“Bukan kura-kura mba…!! Itu penyu.” Pak Siril, membenarkan.
Wuih… penyunya besar, hampir segede bantal. Seru..!!
Kami pun terus melanjutkan perburuan...dan tiba-tiba..
“Mba, mba,… arah depan perahu…!!”
Karena posisi gw paling depan, gw coba berdiri. Whuahhh??? Aku hanya melihat sirip –sirip hitam. Dalam hati sempat terpikir?? Hiiiuuu????.....hhiiiyyyy….
Tapi semakin dekat, semakin jelas gerombolan lumba-lumba itu. Jumlah mereka banyak sekali. Yihaaaa…. Akhirnya ketemu juga!! Seperti di komando, gerombolan lumba-lumba yang lain ikut mendekat, kami berkejar-kejaran. Jarak kami benar-benar dekat. Terkadang gw melihat beberapa lumba-lumba berenang di bawah jukung kami. Hhmmm…. Speechless. Subhanallah.
Sayangnya, kamdig gw hanya sanggup menangkap beberapa momen lumba-lumba. Speed nya kurang canggih. Yang terpenting siy, gw puas bisa menyaksikan mereka langsung di laut lepas. Tidak hanya berenang dan berkejar-kejaran dengan jukung kami, kadang-kadang mereka show off juga, melakukan beberapa maneuver.. meloncat tinggi ke udara. Cieee… gaya oiii…!! Selain ribuan lumba-lumba, teluk Kiluan juga jadi tujuan para mancing mania. Buktinya telah kami lihat dengan mata kepala sendiri. Beberapa orang TNI AL menangkap ikan laut yang besar-besar. Ikan bakar, sounds good…!! hhmm… ngebayanginnya aja bikin ngeces. I’m a sea food lover, you know..!!
Kami kembali ke Pulau Kelapa sekitar jam 11, langsung mandi keramas dan berkemas. Kami harus segera bergegas. Setelah makan dan menyelesaikan urusan pembayaran, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Berhenti sebentar untuk beli oleh-oleh di Yen Yen, daerah Gudang garam. Yang lucu dalam perjalanan pulang, seorang ibu berkomentar tentang perjalanan kami “Mba.. mba.. liat lumba-lumba koq jauh banget, di Ancol, Jakarta itu kan juga ada.” The kresekers saling menatap… Gubraaxxx..!! eh kelucuannya belom berhenti disitu. Saat di Pelabuhan Bakheuni, jam 12 malam, kami sengaja numpang istirahat di musholla. Tentunya nga sekedar istirahat, kami sholat, re pack, bolak-balik kamar mandi, nge-charge hp, dll (nga ketinggalan rumpi & foto). Mungkin saking lamanya kami istirahat, pengurus musholla rada jengah bin gerah, coz kami semua cewe. So, dengan sopan sang pengurus meminta kami keluar… xixi.. bahasa kasarnya diusir… mang enak??? Hwa ha…
Alhamdulillah perjalanan kami lancar & selamat sampai kembali ke Jakarta. Waktu di kapal sempat kepikiran pirates siy, nga cihuy kalie… kalo ketemu perompak macam yang di Somalia itu? Tapi kalo ketemu pirates of the Caribbean “Jhony Deep” siy... boljug. Nga nolak deh..!!
Pokoknya ini mah pengalaman seru, benar-benar nge bolang abizz.
Kresek-ers… ngeteng-ers… what ever, you name it..!! I do enjoy this trip…
To all Kresekers ; kapan-kapan lagi yok..!! Jadi berasa 25 lagi neh..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar