Keep on Moving and Believing

Keep on Moving and Believing

Cari Blog Ini

Rabu, 05 Oktober 2011

Rinjani Summit - Escape The Ordinary


Sabtu, 17 September 2011

Perjalananku kali ini tanpa  teman menemani, tapi tekadku tak pernah mati untuk tetap menuju  Rinjani.  Elektronik tiket sudah ditangan, jauh sebelum kepergianku. Kecanggihan tehnologi mempermudah transaksi.  Tak perlu lagi repot –repot mengantri.  Jadwal keberangkatanku, Sabtu, 17 September 2011 pukul 9 pagi.
Semua peralatan & kebutuhan pendakian sudah kusiapkan jauh-jauh hari. Rasanya semua sudah ready, namun itu semua tidak menutupi suara hatiku yang  kebat-kebit membayangkan perjalanan yang akan kulalui. Namun semangat & keyakinan mengalahkan semuanya. Aku harus pergi...

Sabtu pagi, pukul  5.30 aku sudah bersiap menuju terminal Lebak Bulus,  diantar my bro’ Rahmat.  Dari Lebak Bulus, kurang lebih 30 menit naik damri, sampailah aku di Bandara Soekarno Hatta.  Aku  langsung  check in sekalian nimbang keril sebelum masuk bagasi, 12 kg… yah lumayan lah. Dalam hati berteriak  “Semoga kuat” .

Alhamdulillah tidak ada delay jadwal keberangkatan. Perjalananpun lancar  dan pesawat  tiba 5 menit lebih cepat dari jadwal. Beberapa waktu sebelum tiba di bandara Selaparang- Lombok ,pesawat yang aku tumpangi sempat melintasi pemandangan yang luar biasa.  Sempat bertanya-tanya dalam hati Gunung apakah yang tegak berdiri tinggi mengungguli  barisan awan.. .apakah itu Rinjani?  Seperti mendapat jawaban dari langit, co-Pilot segera memberitahukan kepada penumpang bahwa yang berada  disisi pesawat adalah Gn. Agung, Bali. Bersyukur dapat posisi kursi yang  tepat, maka kunikmati  Eksotisme Gunung Agung dari balik jendela pesawat,  sambil berharap suatu saat nanti aku bisa mendapat kesempatan kesana. Terhipnotis pesona Gn. Agung, sayangnya aku  jadi kurang cepat tanggap, lupa mengabadikan momen tersebut. Cukup terekam dalam memori otak.

Sesaat setelah landing, lucunya pintu pesawat tidak bisa dibuka. Kami terjebak dalam pesawat. Untungnya kejadian tersebut tidak berlangsung lama.  Aku segera  menghubungi Anggi, teman yang aku kenal pada pendakian Semeru, setahun yang lalu. Pertemanan kami berlanjut di FB, meski minim komunikasi, kami berjanji untuk bareng mendaki Rinjani dan bertemu di bandara Lombok ini. Ternyata Anggi bekerja di kantor BMKG yang berlokasi di kawasan bandara Selaparang. Ehm, jadi enak… datang dijemput, diajak ke kantornya, menikmati makan siang gratis sambil memandangi pesawat yang wara-wiri. Cihuy banget ga sech??  Sekali lagi menikmati kelebihan tehnologi… FB oh FB…jalin silahturahmi.

Selesai makan &  beristirahat di tempat kost, sore harinya kami menghabiskan waktu berjalan-jalan ke  Senggigi. Disisi kanan  dan kiri, Pohon-pohon kelapa yang kurus  menjulang tinggi.  Sebentar bermain dengan ombak, lalu kami duduk menepi . Sesaat memperhatikan ikan-ikan kecil bercampur dalam buih ombak, membentur bebatuan, melompat-lompat seperti senang bermain dengan air.  Entah ikan apa itu, bentuknya pipih, ada kakinya, sekilas mirip kecebong dan hebatnya, kalau ada kepiting yang mendekat, segera barisan duri pada pungung badannya berdiri, seolah membentuk perisai diri. Ikan sekecil itu, sanggup menjaga diri.  
Menikmati udara sore sambil mendengar debur ombak yang kian membesar, perutku mulai merasa lapar. Anggi menyuguhi menu perkenalan, masakan khas Lombok : plecing. Apa ya? Ow..ow..ow.. ternyata kangkung disambelin. Ha ha ha…namanya juga lapar, jadi ya… Nikmat..!! Kuhabiskan Plecing dalam sekejap sambil memandang jauh kedepan, it’s sunset time. Perfect. 


Plecing lombok

Minggu, 18 September 2011

Minggu pagi di mataram, jadwalnya Car Free Day dan  aku janji  menemani Anggi lari pagi. Tapi saat bersiap-siap, aku baru tersadar bahwa dompet sudah tak lagi di saku jaket. Aku coba tenangkan diri, mencari dan mencari… seingatku terakhir pegang dompet ketika beli makan malam. Ehm, semoga masih rejeki, doaku dalam hati. Anggi, mengingatkan mungkin tertinggal di kantornya  ketika kami main kesana semalam. Ya… mudah-mudahan.

Kami memutuskan untuk tetap lari pagi, karena Anggi juga sudah janjian sama teman-temannya. Sepulang olahraga, kami  langsung  menuju ke kantornya Anggi. Dalam perjalanan, aku dapat sms dari Khopin seorang sahabat  (sponsor utama)  di Jakarta  :
“ Semoga disehatkan badannya, dicukupi bekalnya, diselamatkan dan dilancarkan perjalanannya, juga dimudahkan tujuannya, amin..eh + dipertemukan jodohnya.”    18 sept 2011 07:32 am
Berasa seperti ada ‘klik’. 
 Amin, gumamku…. sambil berdoa  dalam hati semoga ALLAH yang mempermudah jalannya rezeki, memberikan aku solusi.
Disaat yang hampir bersamaan, Anggi menerima telepon dari rekan kantornya. 
“Alhamdulillah mba, dompetnya ada sama temanku… disimpan.”  Teriak Anggi…
“Allahu akbar… “ lemas… ..Lalu segera ku ucap syukur, “Alhamdulillah...” 
Akhirnya bisa tenang,  dompet berisi seluruh kekayaanku (baca: uang, kartu kredit, atm, KTP) sudah kembali.  Aku bisa lanjutkan mimpi ke Rinjani.

Informasi gres dari Anggi, rencananya kami bakal muncak bareng para juniornya, yang entah kapan sampe di Lombok. Mereka, anak2 AMG( Akademi Meteorology dan Geofisika ), bukan OMG loh.. Catat..!! berangkat dari Jakarta tgl 16 September 2011 via darat. Sambil menunggu kedatangan mereka, hari ini kujadwalkan jalan2 ke Gili Trawangan. Yuhuuuu… single trip? Why Not?

Jam 10.30 kami berangkat dari kamar kost Anggi, bergantian bawa motornya. Naik turun bukit, dengan pemandangan pantai disisi kiri. Menghirup udara segar tanpa polusi. Macet? Biasanya Cuma karena cidomo yang jalannya pelan. Selain itu perjalanan lancar. Jalanannya juga mulus tanpa lubang. Jadi ya… banyak yang ngebut dan banyak yang tidak taat peraturan lalu lintas. Kalo ada yang mo belok atau nyalip, nga pernah kasih lampu penunjuk arah, mirip bajaj di Jakarta. Bagaimana kita tau coba?? Emangnya kita bisa baca pikirannya. Kesimpulan pribadi : di Lombok banyak pengendara yang buruk, entah mereka punya SIM atau tidak, yang jelas kalo naik motor rem harus selalu stand by.

Sampai di pelabuhan Bangsal, Anggi segera tancap gas kembali ke Mataram  coz doi kerja shift siang. Akupun menuju loket penjualan tiket penyebrangan. Ada tiga pilihan lokasi: Gili Trawangan 10 ribu, Gili Meno  9 ribu dan Gili Air 8 ribu. Ehm, meski Anggi merekomendasikan Gili Air, koq rasanya aku cenderung pengen ke Gili Trawangan ya… mungkin karena yang Gili trawangan sudah amat dikenal. Sempat bertanya pada wanita penjaga tiket juga siy… mereka malah merekomendasikan semuanya. He he.. mau siy mau, tapi waktunya ga bakal cukup. 

Pengumuman tentang keberangkatan kapal  menuju Gili Trawanngan terdengar jelas lewat Toa, pengeras suara. Aku memberikan karcis dan melompat ke kapal. Kapal ini memuat sekitar 25-30 orang ditambah muatan hasil belanja dari pasar. Di Kapal aku berkenalan dengan para penumpangg lain, anak-anak SMP darii Lombok Timur yang sedang study tour. Mereka bertugas mewawancarai wisatawan asing di Gili. Di tengah obrolan asyik kami, salah seorang dari mereka berteriak… “Lumba-lumba…kak..!!”
Yup, benar… ada lumba-lumba. Ini kali kedua aku melihat lumba-lumba di Laut lepas, setelah  melihat mereka di Teluk Kiluan. Dan lagi-lagi… Penyu pun tidak mau kalah bersaing. Ia berenang santai di samping kapal kami. Indahnya…..

Sampai di Gili, berasa bukan di tanah air sendiri. Bule dimana-mana... jadi berasa di Hawaii. Everyone speaks English. Sapaan dari para pemuda lokal..’ hallo ma bro.. ‘ atau ‘ Hi, brother’. Dari awal aku sudah pasang niat berkeliling pulau dahulu, baru snorkeling kemudian. Sewa sepeda 10ribu , aku pun mulai mengayuhnya perlahan. Track awal, jalanan con block… enteng..!!  Lama-lama.. pasir yang menghisap ban sepeda sampai kedalaman 3 cm. Sepeda terhenti, tidak bisa digowes lagi. Gantian deh, aku yang nuntun sepeda. Keringat sudah bercucuran deras. Untung ada barengannya 9 orang muda-mudi bule, backpackers asal berbagai Negara. Tapi kemudian, mereka menyerah pada panasnya udara & pijakan pasir… menepi dan berenang.





Akupun meneruskan perjalanan sendiri, makin kedalam, makin sepi. Sesekali berpapasan dengan turis asing  lain, bertanya jarak yang memang masih jauh untuk kembali ke titik awal. Tiba-tiba sms berbunyi, ternyata dari Anggi, mengabarkan ada teman-temannya yang kebetulan juga lagi di Gili. Jadi, aku janjian ketemu mereka di tempat penangkaran penyu.  Meski harus menunggu lama, ternyata mereka teman-teman yang sabar. .. thanks to Dedi, Dika, Amir dan Tyas, dah nemenin Snorkeling dan memberi makan + penginapan gratis.  Gara-gara keasikan snorkeling, kami jadi nga dapat transport kembali ke Mataram, jadilah kita menginap di rumah Dedi, dekat pelabuhan Bangsal.  







to be continued.....