September malam itu...
Purnama seolah ingin menjadi saksi bisu.
Menemani jejak langkahku
diantara serpihan pasir dan bongkahan batu-batu
Taburan berjuta bintang di malam pekat
Tenangkan jiwa yang tersesat
Dalam hembusan angin yang kian dingin
Ritme nafas terasa smakin memburu
Berat langkah tertatih satu persatu
Seiring dengan debar jantung yang terus terpacu.
Semeru,
Mimpi membawaku padamu.
Hasratku begitu menggebu
Hendak ciumi biru langitMU
diujung puncak MAHAMERU.
Keep on Moving and Believing
Cari Blog Ini
Minggu, 25 Desember 2011
Rabu, 05 Oktober 2011
Rinjani Summit - Escape The Ordinary
Sabtu, 17 September 2011
Perjalananku kali ini tanpa teman menemani, tapi tekadku tak pernah mati untuk tetap menuju Rinjani. Elektronik tiket sudah ditangan, jauh sebelum kepergianku. Kecanggihan tehnologi mempermudah transaksi. Tak perlu lagi repot –repot mengantri. Jadwal keberangkatanku, Sabtu, 17 September 2011 pukul 9 pagi.
Semua peralatan & kebutuhan pendakian sudah kusiapkan jauh-jauh hari. Rasanya semua sudah ready, namun itu semua tidak menutupi suara hatiku yang kebat-kebit membayangkan perjalanan yang akan kulalui. Namun semangat & keyakinan mengalahkan semuanya. Aku harus pergi...
Sabtu pagi, pukul 5.30 aku sudah bersiap menuju terminal Lebak Bulus, diantar my bro’ Rahmat. Dari Lebak Bulus, kurang lebih 30 menit naik damri, sampailah aku di Bandara Soekarno Hatta. Aku langsung check in sekalian nimbang keril sebelum masuk bagasi, 12 kg… yah lumayan lah. Dalam hati berteriak “Semoga kuat” .
Alhamdulillah tidak ada delay jadwal keberangkatan. Perjalananpun lancar dan pesawat tiba 5 menit lebih cepat dari jadwal. Beberapa waktu sebelum tiba di bandara Selaparang- Lombok ,pesawat yang aku tumpangi sempat melintasi pemandangan yang luar biasa. Sempat bertanya-tanya dalam hati Gunung apakah yang tegak berdiri tinggi mengungguli barisan awan.. .apakah itu Rinjani? Seperti mendapat jawaban dari langit, co-Pilot segera memberitahukan kepada penumpang bahwa yang berada disisi pesawat adalah Gn. Agung, Bali. Bersyukur dapat posisi kursi yang tepat, maka kunikmati Eksotisme Gunung Agung dari balik jendela pesawat, sambil berharap suatu saat nanti aku bisa mendapat kesempatan kesana. Terhipnotis pesona Gn. Agung, sayangnya aku jadi kurang cepat tanggap, lupa mengabadikan momen tersebut. Cukup terekam dalam memori otak.
Sesaat setelah landing, lucunya pintu pesawat tidak bisa dibuka. Kami terjebak dalam pesawat. Untungnya kejadian tersebut tidak berlangsung lama. Aku segera menghubungi Anggi, teman yang aku kenal pada pendakian Semeru, setahun yang lalu. Pertemanan kami berlanjut di FB, meski minim komunikasi, kami berjanji untuk bareng mendaki Rinjani dan bertemu di bandara Lombok ini. Ternyata Anggi bekerja di kantor BMKG yang berlokasi di kawasan bandara Selaparang. Ehm, jadi enak… datang dijemput, diajak ke kantornya, menikmati makan siang gratis sambil memandangi pesawat yang wara-wiri. Cihuy banget ga sech?? Sekali lagi menikmati kelebihan tehnologi… FB oh FB…jalin silahturahmi.
Selesai makan & beristirahat di tempat kost, sore harinya kami menghabiskan waktu berjalan-jalan ke Senggigi. Disisi kanan dan kiri, Pohon-pohon kelapa yang kurus menjulang tinggi. Sebentar bermain dengan ombak, lalu kami duduk menepi . Sesaat memperhatikan ikan-ikan kecil bercampur dalam buih ombak, membentur bebatuan, melompat-lompat seperti senang bermain dengan air. Entah ikan apa itu, bentuknya pipih, ada kakinya, sekilas mirip kecebong dan hebatnya, kalau ada kepiting yang mendekat, segera barisan duri pada pungung badannya berdiri, seolah membentuk perisai diri. Ikan sekecil itu, sanggup menjaga diri.
Menikmati udara sore sambil mendengar debur ombak yang kian membesar, perutku mulai merasa lapar. Anggi menyuguhi menu perkenalan, masakan khas Lombok : plecing. Apa ya? Ow..ow..ow.. ternyata kangkung disambelin. Ha ha ha…namanya juga lapar, jadi ya… Nikmat..!! Kuhabiskan Plecing dalam sekejap sambil memandang jauh kedepan, it’s sunset time. Perfect.
| Plecing lombok |
Minggu, 18 September 2011
Minggu pagi di mataram, jadwalnya Car Free Day dan aku janji menemani Anggi lari pagi. Tapi saat bersiap-siap, aku baru tersadar bahwa dompet sudah tak lagi di saku jaket. Aku coba tenangkan diri, mencari dan mencari… seingatku terakhir pegang dompet ketika beli makan malam. Ehm, semoga masih rejeki, doaku dalam hati. Anggi, mengingatkan mungkin tertinggal di kantornya ketika kami main kesana semalam. Ya… mudah-mudahan.
Kami memutuskan untuk tetap lari pagi, karena Anggi juga sudah janjian sama teman-temannya. Sepulang olahraga, kami langsung menuju ke kantornya Anggi. Dalam perjalanan, aku dapat sms dari Khopin seorang sahabat (sponsor utama) di Jakarta :
“ Semoga disehatkan badannya, dicukupi bekalnya, diselamatkan dan dilancarkan perjalanannya, juga dimudahkan tujuannya, amin..eh + dipertemukan jodohnya.” 18 sept 2011 07:32 am
Berasa seperti ada ‘klik’.
Amin, gumamku…. sambil berdoa dalam hati semoga ALLAH yang mempermudah jalannya rezeki, memberikan aku solusi.
Disaat yang hampir bersamaan, Anggi menerima telepon dari rekan kantornya.
“Alhamdulillah mba, dompetnya ada sama temanku… disimpan.” Teriak Anggi…
“Allahu akbar… “ lemas… ..Lalu segera ku ucap syukur, “Alhamdulillah...”
Akhirnya bisa tenang, dompet berisi seluruh kekayaanku (baca: uang, kartu kredit, atm, KTP) sudah kembali. Aku bisa lanjutkan mimpi ke Rinjani.
Informasi gres dari Anggi, rencananya kami bakal muncak bareng para juniornya, yang entah kapan sampe di Lombok. Mereka, anak2 AMG( Akademi Meteorology dan Geofisika ), bukan OMG loh.. Catat..!! berangkat dari Jakarta tgl 16 September 2011 via darat. Sambil menunggu kedatangan mereka, hari ini kujadwalkan jalan2 ke Gili Trawangan. Yuhuuuu… single trip? Why Not?
Jam 10.30 kami berangkat dari kamar kost Anggi, bergantian bawa motornya. Naik turun bukit, dengan pemandangan pantai disisi kiri. Menghirup udara segar tanpa polusi. Macet? Biasanya Cuma karena cidomo yang jalannya pelan. Selain itu perjalanan lancar. Jalanannya juga mulus tanpa lubang. Jadi ya… banyak yang ngebut dan banyak yang tidak taat peraturan lalu lintas. Kalo ada yang mo belok atau nyalip, nga pernah kasih lampu penunjuk arah, mirip bajaj di Jakarta. Bagaimana kita tau coba?? Emangnya kita bisa baca pikirannya. Kesimpulan pribadi : di Lombok banyak pengendara yang buruk, entah mereka punya SIM atau tidak, yang jelas kalo naik motor rem harus selalu stand by.
Sampai di pelabuhan Bangsal, Anggi segera tancap gas kembali ke Mataram coz doi kerja shift siang. Akupun menuju loket penjualan tiket penyebrangan. Ada tiga pilihan lokasi: Gili Trawangan 10 ribu, Gili Meno 9 ribu dan Gili Air 8 ribu. Ehm, meski Anggi merekomendasikan Gili Air, koq rasanya aku cenderung pengen ke Gili Trawangan ya… mungkin karena yang Gili trawangan sudah amat dikenal. Sempat bertanya pada wanita penjaga tiket juga siy… mereka malah merekomendasikan semuanya. He he.. mau siy mau, tapi waktunya ga bakal cukup.
Pengumuman tentang keberangkatan kapal menuju Gili Trawanngan terdengar jelas lewat Toa, pengeras suara. Aku memberikan karcis dan melompat ke kapal. Kapal ini memuat sekitar 25-30 orang ditambah muatan hasil belanja dari pasar. Di Kapal aku berkenalan dengan para penumpangg lain, anak-anak SMP darii Lombok Timur yang sedang study tour. Mereka bertugas mewawancarai wisatawan asing di Gili. Di tengah obrolan asyik kami, salah seorang dari mereka berteriak… “Lumba-lumba…kak..!!”
Yup, benar… ada lumba-lumba. Ini kali kedua aku melihat lumba-lumba di Laut lepas, setelah melihat mereka di Teluk Kiluan. Dan lagi-lagi… Penyu pun tidak mau kalah bersaing. Ia berenang santai di samping kapal kami. Indahnya…..
Sampai di Gili, berasa bukan di tanah air sendiri. Bule dimana-mana... jadi berasa di Hawaii. Everyone speaks English. Sapaan dari para pemuda lokal..’ hallo ma bro.. ‘ atau ‘ Hi, brother’. Dari awal aku sudah pasang niat berkeliling pulau dahulu, baru snorkeling kemudian. Sewa sepeda 10ribu , aku pun mulai mengayuhnya perlahan. Track awal, jalanan con block… enteng..!! Lama-lama.. pasir yang menghisap ban sepeda sampai kedalaman 3 cm. Sepeda terhenti, tidak bisa digowes lagi. Gantian deh, aku yang nuntun sepeda. Keringat sudah bercucuran deras. Untung ada barengannya 9 orang muda-mudi bule, backpackers asal berbagai Negara. Tapi kemudian, mereka menyerah pada panasnya udara & pijakan pasir… menepi dan berenang.
Akupun meneruskan perjalanan sendiri, makin kedalam, makin sepi. Sesekali berpapasan dengan turis asing lain, bertanya jarak yang memang masih jauh untuk kembali ke titik awal. Tiba-tiba sms berbunyi, ternyata dari Anggi, mengabarkan ada teman-temannya yang kebetulan juga lagi di Gili. Jadi, aku janjian ketemu mereka di tempat penangkaran penyu. Meski harus menunggu lama, ternyata mereka teman-teman yang sabar. .. thanks to Dedi, Dika, Amir dan Tyas, dah nemenin Snorkeling dan memberi makan + penginapan gratis. Gara-gara keasikan snorkeling, kami jadi nga dapat transport kembali ke Mataram, jadilah kita menginap di rumah Dedi, dekat pelabuhan Bangsal.

to be continued.....
Minggu, 08 Mei 2011
Teluk Kiluan - Lampung Selatan
Kalau trinity adalah the naked traveler, seorang backpacker cewe yang sudah keliling dunia, maka kami adalah the nekad traveler, kumpulan cewe-cewe kresekers yang baru belajar keliling negeri.
What ?? Kresekers?? Apaan tuh? Yup.. itu nama yang tanpa sengaja tercipta, selain karena sering nenteng –nenteng kantong plastik kresek logistik, kita juga ngerasa bukan golongan koper atau ransel tapi KW 3 nya lah… ya itu tadi, kresekers. Intinya mah kita nga bisa jauh-jauh dari kresek yang multi fungsi itu, bisa memuat pakaian kotor, makanan, barang bawaan yang lain atau fungsi lainnya yang tak kalah penting; yaitu untuk nampung ‘huweks’ …who knows? Siapa hidung..?
Well, sesuai hasil briefing, perjalanan enam kresekers (Lya, Antie, Fika, Ryan, Erma & Yeti) akan bertolak menuju teluk Kiluan di daerah Lampung Selatan pada hari Kamis, 21 April 2011, berkumpul jam 20.00 di terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Meski awalnya gw sedikit ragu dengan kondisi cuaca yang rada ga bisa ditebak, antara panas dan hujan yang kadang turun terus menerus, akhirnya dengan semangat yang membara dari teman-teman, gw jadi mantap untuk berangkat.
Di hari ‘H’ …Gw dan Erma sampai di terminal Pulogadung 50 menit terlambat dari waktu yang kita sepakati, muacetnya puol. Antie, Lya & Ryan sudah stand by duluan. Ternyata menurut Antie, penyebab kemacetan adalah kebakaran. Duh, pantesan gw liat mobil-mobil pada baris di tol … nga gerak sama sekali. Gw yang udah mencium gelagat kurang baik dari suasana kota, langsung berstrategi untuk tidur, saving my energy lah. Lucunya setiap kali gw terbangun, posisi kendaraan belum mengalami banyak perubahan, masih di wilayah yang kurang lebih sama. Ehm, Jakarta.. Jakarta..akhirnya kita ikut terkena imbasnya, jadi korban macet dalam perjalanan Pulogadung – Merak. Kami menghabiskan waktu kurang lebih 5-6 jam untuk jarak tempuh 120 km. Huh.. dasar macet biadab..!!
Tiba di Pelabuhan Merak jam 3, Jum’at dini hari, kita langsung beli tiket kelas ekonomi. Pengalaman pertama neh, naik kapal ferry… jadi kebayang Titanic atau Awani dreams ya?? Ho ho ho… jauh beuner dari kenyataan, masa Cruise mau dibandingin ma Ferry??
Saat itu, penumpang kelas ekonomi cukup padat. Untungnya, gw sigap… dapet deh duduk di kursi plastik warna hijau persis model bangku kopaja. Deretan kursi yang berjajar ke belakang, sudah nyaris terisi semua. Asap rokok yang memenuhi hampir seluruh penjuru ruangan & suguhan video jadul tanpa suara, bikin sesak nafas dan bikin suasana nga nyaman blas..!! Tapi the kresekers nga mengeluh. Nah, mencoba cari alternative lain, Fika & Antie jalan-jalan keliling kapal, entah niatnya cari solusi atau cari kenalan, cuma mereka & Tuhan yang tahu. He he…Yang penting ada hasilnya…!! Cakep bener.. dalam hitungan detik kami sudah berada di tempat yang lebih baik, walau nga bisa di bilang nyaman sepenuhnya karena banyaknya kecoa kecil yang berkeliaran. Yah, paling tidak di kelas bisnis, kami bisa menghirup oksigen karena bebas asap rokok, ada AC plus sofa. Meskipun sebagian dari kami harus rela lesehan, karena nga semua kebagian sofa. Satu lagi kelebihan spot baru kami disini, dekat dengan TV + stop kontak, jadi bisa gonta- ganti chanel seenaknya, gedein volume, plus numpang nge- charge HP. Keren kanz? Alhamdulillah……
Pagi hari di pelabuhan Bakaheuni, kedatangan kami disambut sinar matahari yang baru saja menyapa pagi. Tanpa ba bi bu… sambil tetap jepret sana sini, kami langsung kearah pemberhentian bis terminal Bakaheuni. Niatnya siy mau sarapan dulu… tapi belum sempat ketemu makan pagi, eh bis yang menuju Terminal Rajabasa yang sarat penggemar nongol. Ya sudahlah kami berenam berebut masuk bersama penggemar bis yang lain. Buat yang sering naik busway Blok m – Kota pada saat jam kerja, kondisi seperti ini mah sudah nga asing lagi, makanan sehari-hari. Akhirnya, setelah berjibaku..tiga deret kursi paling depan, disisi kiri bis jadi tempat the kresekers.. tune in. he he…
Melewati jalan yang berliku di daerah Kalianda , perut lapar, bis penuh sesak dengan penumpang yang berdiri dengan aroma keringat tak terhindarkan lagi, membuat gw sedikit pening. Satu-satunya hiburan yang sedikit bisa mengalihkan lapar & lelah adalah pemandangan alam pantai dikiri jalan dan di kanan jalan bukit, bahkan terkadang tebing menjulang. Perumahan penduduk berada tepat di depan pantai ini. Satu hal yang masuk dan terekam dalam otak gw adalah notifikasi di pinggir jalan yang berbunyi ; “ Arah evakuasi bahaya tsunami” ditandai dengan symbol penunjuk arah kearah perbukitan. Nah lo, ngeri nga tuh??!! Untungnya gw nga sampe Parno gara-gara baca tulisan itu. Pantai Queen Artha, Pantai Klara (klapa rapat) dan beberapa lokasi wisata local, jadi pemandangan tersendiri yang hanya bisa kami nikmati dari dalam angkot. Yah, maklum ngeteng, nga bisa request untuk berhenti sebentar. Terima Naseeb aja deh…
Transportasi menuju Teluk Kiluan tidak mudah di dapat dan tidak semua orang Lampung mengenal daerah ini. Saat menyantap sarapan di daerah Kali Balok, beberapa kali kami mencoba cari informasi dengan bertanya kepada penduduk setempat. Ternyata mereka tidak tahu wilayah yang kami tuju. Memang idealnya kita menghubungi pihak pengelola Teluk Kiluan yang tertera pada beberapa situs internet, untuk bantuan transportasi, jemputan misalnya. Karena ternyata untuk menuju teluk Kiluan,tidak ada akses transportasi umum. Sementara buat yang bermodal cekak, mobil travel selain susah didapat , ongkosnya nga tanggung-tanggung , bisa menghabiskan gaji satu bulan UMR. Untungnya, the kresekers yang bermodal nekad, selalu dapat orang yang bersedia membantu. Maka dengan modal yang seminim-minimnya akhirnya kami mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. He he he.. kapanpun dimanapun hukum ekonomi musti dan harus ditegakkan. Angkutan yang membawa kami, bersedia mengantar sampai teluk Kiluan, dengan sedikit tambahan biaya & sedikit rayuan. Thanks ya bang Iwan, sang buset (buset = bujangan setia, sticker yang terpampang di mobilnya) yang sudah mengantar kami. Setelah melewati rute Bakaheuni – Kali Balok – Enggal – Pasar bawang – Teluk Kiluan dengan bis dan juga angkot, akhirnya sampailah kami pada tempat tujuan. Dari daratan negeri Kiluan, kami dijemput oleh Bp. Dirham untuk menyebrang ke Pulau Kiluan. Lokasinya dekat koq, cuma perlu waktu 10 menit dengan speed boat.
First impression about Kiluan Bay : exotic…
Daerah ini jelas, asli, masih perawan banget. Fisik dan mental kudu prima, karena memang lokasinya jauh dari peradaban, jalanan yang berkelok kelok, sedikit rusak & berlubang disana sini, turunan curam dan tanjakan terjal dengan sisi jurang dan tebing cukup mengecilkan mental. Belum lagi waktu tempuh yang sangat lama, bisa bikin bosan & melelahkan. Tapi semuanya bakal terbayar dengan pemandangan pantai & pulau yang masih alami, tidak ada sentuhan komersialisasi industri wisata disini, tidak seperti di kepulauan Seribu. Pondokan yang tersedia pun hanya satu-satunya. Wuiih… pokoknya serasa yang punya pulau deh.
Pondokan yang tersedia di Pulau Kiluan/Pulau kelapa, terdiri dari 4 kamar yang masing-masing bisa memuat 4 – 6 orang. Selain pondokan, pengelola juga menyediakan tenda bagi yang mau camping di tepi pantai. Seru juga tuh, perlu dicoba…terutama buat yang hobi kemping & ga takut debur ombak pada saat laut pasang dini hari, it’s high recommended.
Kami sudah booking satu kamar untuk ber-enam, sekalian pesan makan dengan Ibu Ema, pengelola pondok. Lumayan hemat. Untuk mandi, kita bisa pake fasilitas pondokan : sumur kerek di depan pondokan dengan penutup kayu kelapa yang disusun melintang sebatas tinggi tubuh, tanpa atap, mantap. Bisa juga menggunakan wc umum di belakang pondok. Listrik tersedia dari jam 6 sore sampe jam 1 malam.
Sore itu selepas maksiat (makan siang & sholat), the kresekers mulai berkeliling pulau, sekalian berenang di bibir pantai. Kita sempat bertemu dengan bintang laut, dan ketika gw mencoba menyelam sedikit ke tengah… ketemu ma ular belang hitam-putih yang sedang asyik berenang. Sumpah ngeri abiz.. bagusnya gw nga panik, berusaha menguasai diri dan berenang pelan ke pantai. Lemass…
Abis kejadian itu, kata teman-teman siy, tampang gw keliatan pucat. Ya iyalah, ular laut gitu loch? Jagoan juga dia kali, berenangnya. Mana gw nga pake live vest pula..!! Sebelum ini, di jalan juga gw udah ngelihat satu ular hitam yang menyebrang di depan mobil kami. Antie juga lihat ular… dan please dech jangan bilang kalo kita bakal ketemu jodoh?? Wkwkwk… padahal dalam hati, Ngarep.com.
Cerita keliling pulau berlanjut dengan sesi pemotretan. Terumbu karang yang besar-besar dengan latar pulau sebrang, jadi objek yang menarik. Narsisme memang seperti penyakit menular, epidemi nya cepat sekali meluas. So, cheeseee… katakan keju…!!
Pukul 6, sabtu pagi kami bersiap menuju sajian utama Teluk Kiluan; melihat lumba-lumba berenang di laut lepas. Setelah the kresekers memakai live vest, kami bergerak ke tepi pantai… naik jukung, perahu kecil yang bermuatan 3 – 4 orang. Dikedua sisi jukung diberi palang-palang kayu untuk penyeimbang. Dan petualanganpun dimulai….
Jukung bergerak perlahan. Baru ketika sudah menyambangi laut, guide kami, mulai menambah kecepatan. Gelombang laut lumayan tinggi, test adrenalin dimulai disini. Jukung kami bergerak ke kanan dan ke kiri. Naik turun, terombang ambing air laut melaju terus menuju laut lepas. Hati gw berdesir deras. Deg deg ser.. kebayang notification sign tsunami, bercampur animasi gelombang tinggi. Jiaah.. jipeerrr juga. Jukung lain yang juga berlayar kadang tak terlihat karena terhalang besarnya gelombang. Batu-batu karang yang ada di pinggir Pulau memecah gelombang, mencipta cipratan ombak berbuih. Kerenz…
Saat matahari bergerak naik, gelombang laut bergerak tenang. Hampir sekitar 3 jam kami berada di laut lepas, mencari dimanakah gerangan lumba-lumba berenang. Setengah desperate, sambil berdoa aku tetap pasang mata jeli mencari- cari sosok ikan jenis mamalia itu.
“Hey, ada kura-kura…!! “ teriakku seketika melihat kura-kura mendekat berenang ke jukung kami.
“Mana.. mana??? “ sahut Erma & Antie.
“Bukan kura-kura mba…!! Itu penyu.” Pak Siril, membenarkan.
Wuih… penyunya besar, hampir segede bantal. Seru..!!
Kami pun terus melanjutkan perburuan...dan tiba-tiba..
“Mba, mba,… arah depan perahu…!!”
Karena posisi gw paling depan, gw coba berdiri. Whuahhh??? Aku hanya melihat sirip –sirip hitam. Dalam hati sempat terpikir?? Hiiiuuu????.....hhiiiyyyy….
Tapi semakin dekat, semakin jelas gerombolan lumba-lumba itu. Jumlah mereka banyak sekali. Yihaaaa…. Akhirnya ketemu juga!! Seperti di komando, gerombolan lumba-lumba yang lain ikut mendekat, kami berkejar-kejaran. Jarak kami benar-benar dekat. Terkadang gw melihat beberapa lumba-lumba berenang di bawah jukung kami. Hhmmm…. Speechless. Subhanallah.
Sayangnya, kamdig gw hanya sanggup menangkap beberapa momen lumba-lumba. Speed nya kurang canggih. Yang terpenting siy, gw puas bisa menyaksikan mereka langsung di laut lepas. Tidak hanya berenang dan berkejar-kejaran dengan jukung kami, kadang-kadang mereka show off juga, melakukan beberapa maneuver.. meloncat tinggi ke udara. Cieee… gaya oiii…!! Selain ribuan lumba-lumba, teluk Kiluan juga jadi tujuan para mancing mania. Buktinya telah kami lihat dengan mata kepala sendiri. Beberapa orang TNI AL menangkap ikan laut yang besar-besar. Ikan bakar, sounds good…!! hhmm… ngebayanginnya aja bikin ngeces. I’m a sea food lover, you know..!!
Kami kembali ke Pulau Kelapa sekitar jam 11, langsung mandi keramas dan berkemas. Kami harus segera bergegas. Setelah makan dan menyelesaikan urusan pembayaran, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Berhenti sebentar untuk beli oleh-oleh di Yen Yen, daerah Gudang garam. Yang lucu dalam perjalanan pulang, seorang ibu berkomentar tentang perjalanan kami “Mba.. mba.. liat lumba-lumba koq jauh banget, di Ancol, Jakarta itu kan juga ada.” The kresekers saling menatap… Gubraaxxx..!! eh kelucuannya belom berhenti disitu. Saat di Pelabuhan Bakheuni, jam 12 malam, kami sengaja numpang istirahat di musholla. Tentunya nga sekedar istirahat, kami sholat, re pack, bolak-balik kamar mandi, nge-charge hp, dll (nga ketinggalan rumpi & foto). Mungkin saking lamanya kami istirahat, pengurus musholla rada jengah bin gerah, coz kami semua cewe. So, dengan sopan sang pengurus meminta kami keluar… xixi.. bahasa kasarnya diusir… mang enak??? Hwa ha…
Alhamdulillah perjalanan kami lancar & selamat sampai kembali ke Jakarta. Waktu di kapal sempat kepikiran pirates siy, nga cihuy kalie… kalo ketemu perompak macam yang di Somalia itu? Tapi kalo ketemu pirates of the Caribbean “Jhony Deep” siy... boljug. Nga nolak deh..!!
Pokoknya ini mah pengalaman seru, benar-benar nge bolang abizz.
Kresek-ers… ngeteng-ers… what ever, you name it..!! I do enjoy this trip…
To all Kresekers ; kapan-kapan lagi yok..!! Jadi berasa 25 lagi neh..
Jumat, 15 April 2011
Kota Tua & Thousand Island Trip
Daydreaming is not enough… you have to make it true.
And that’s what I did with my sister Erma.
Right after chatting on how we spend the next long weekend, then we decided to make it into reality.
We’re going to spend the whole holidays, having a terrific time.
Stop working and enjoy the payback.
Day # 1
Friday, May 28th, 2010 noted as Waisak day
Destination: Kota tua & Muara Angke
After walking from the last BusWay shelter, we finally reached “KOTA TUA”. At that time, it was so full and crowded, maybe because it was holiday. Well, we’re not coming as a tourist, but still not to forget taking some pictures, naturally acting like a model, ha ha ha.
We saw some traditional attraction “debus” right there, it’s a bit scary but quite entertaining. Soon after that, my sister and I rent and ride an old bike. Rp 20.000,- for 30 minutes. Pheww.. expensive!! I’m trying to bargain but ehhmmm … OKe Lah!!
My motto: “When you’re on vacation never count on the cost”
I really enjoy my city, Jakarta. It keeps me smiling though sometimes very annoying when it comes the time for “macet” (traffic jam). Huh..!! don’t want to imagine that.
Riding the bike make our stomach can’t wait any longer. Need to be fulfilled...
and “Tahu Gejrot” is the menu of the day.
Whaaatttt….????
He he he… I knew it would not make us feel full, but we were still doing our diet.
Then, from Kota Tua, we took a bus to Grogol, followed by angkot, directly to Muara Angke.
We went to Muara Angke to survey the harbor, check the ship schedule & availability for the next day trip. We planned to go to Pramuka Island.
Arrived @ Muara Angke at around 03.00 pm. The environment was so new for us. There are some interesting, rare & unique objects such as ojek sepeda, some ships completed with huge sea result and a traditional sea food market at the corner. Ougghhh…the smell…. I'm holding my breath.
Beside the market, there’s a place where all ships port. There we go…!!
Sight seeing around, asking here and there.
Then, after getting the information we need, we took a rest for a moment at the sea shore…
Brrr.. The wind was so cool but after while, we realized that we had to go home & prepare everything for the next day…..
On the way home, we’re thinking on how to get to Muara Angke at minimum 6 am the next morning. Erma was so nervous. I ensure her not to worry about that.
We’ll find a way.
Here are some of my plan :
Plan A ; ask my brothers to drop us by.
Plan B; take a normal public transportation, but should be very early, considering the traffic, waiting other passengers (ngetem.com), etc.
Or plan C; book a taxi…….perfect! but how??
I mean it’s getting dark here; we were still on the way home… can’t book right now…
Come on… thinking …thinking…thinking…!!!
Ehhhmmm, I believe when there’s a will there’s a way.
And my way was in front of me….!!
Alhamdulillah.
There’s a taxi driver in same “angkot” (read: a kind of minibus used as public transportation) with us, so without talking too much we switched mobile number and make an appointment with him. WELL DONE.
Day # 2
Saturday, May 29th, 2010
Destination : Muara Angke, Kep. Seribu
At 5.00 AM, just after subuh praying, I asked my brother ‘Rahmat to drop me at the meeting point, in front of Jln. Raisan. Erma was already there as well as the taxi driver. Good… everybody comes on time.
We arrived at Muara Angke at around 06.20 AM, then decided to get some breakfast and my breakfast was bread. Its regular cheap bread, in poor quality, compare to the bread produced by the factory that I worked. Though the bread was not special, but it doesn’t stop me from having this breakfast…he he he (dipoyok dilebok, meaning you talk something bad about it but you also enjoy it).
The ship’s leaving the harbor at 7.15 am. We’re just like sardines inside the can. Full..full…full..no space for moving. I just sit still… quietly, looking at the sea view and also other passengers; some were having “seasickness” and vomit directly to the sea, some were having the conversation with others, taking pictures, etc and the rest were sleeping.
3 hours later, we departed at Pulau Pramuka harbor. Well, it’s not actually a harbor, coz it’s so small. Shelter or port will be more appropriate. The ship moved slowly to the port, and parked. All passengers were ready to jump from the ship to the port. One by one the passengers get off from the ship. Suddenly, pouww… there’s a big sound came from the water. Is it a big fish? Nope… !! one of the passengers felt down to the sea. Ha ha ha…Funny but so pity… a big guy together with the backpack, was in the sea!! He was soooo careless…What for to be in hurry..??
Well, here we came. So, this is it, Pramuka Island. First impression…. Hot..!!
We carried our backpack, walked around the island and took some pictures. Some young boys offered home stay, but the price was so high, so I decided to just enjoy the island and will think about it later.
Pramuka Island is not quite big. We only have to spend less than an hour to walk around it. What a small island, isn’t it?
It is an administration center for Thousands Islands. Most of the local residents work as fisherman or own a business. Some of them own and rent the home for tourist to stay over, or own and renting a ship for sight seeing to other islands, some are working as guides or even only teaching the (mostly local) visitors for snorkeling or diving , some open small shop ‘warung’. Well, those are what I knew. What they do for a living probably much more varies than I ever known.
After looking around the island & having lunch at the small canteen “warnas”, we went to the mosque. Praying, taking some rest and searching for possibility to have a cheap home stay. Alhamdulillah, I am a lucky girl. We met some school boy, who helped us find the renting room. We finally got it for 200 thousands for two, still cheap compare to normal price 350 – 450 thousands. The place was small but quite safe for sleeping. Safe? Secure? Really? I can’t ask for more, coz I pay it cheap. Ha ha…
It has a plastic window, very easy for robber to get in. He he… it’s okay lah.
It’s a backpacker world.
Next, we survey the place which rent the snorkeling equipment. Ehm, there are many places for that. The price for a complete snorkeling equipment is not expensive, only 35 thousands but that exclude renting the boat to go to the sea. The boat renting price is around 350-400 thousands, that’s really expensive for two of us. Ehm… let’s just see the possibility tomorrow morning, whether we would go for it or just forget it. Hiks.!!
In the afternoon, we went to Karya island by “ojek perahu” (small boat). We just need to pay 2 until 3 thousands to go to the near island around. At first, I didn’t know that Karya island is a special place for cemetery, not until I went around it. Oh, that’s why it so quiet and teduh. My sister refused to go further, she scared. Well, that’s okay, it’s time to go back to Pramuka island anyway. and remember, if you want to stop the ojek perahu, all you need to do is waving and the perahu will get close to you.
While we were waiting for ojek perahu, we met two “unattractive: guys; Mad and Abel. We say hello and chat bla bla bla… Do you know what?? They’re from Kemang, place where I was born and grew up. What a small world?? And they know a lot of my friends. Ho ho ho…!! Then, we planned to go snorkeling together the next morning. That would be great, so we can share the cost for renting a boat & snorkeling equipments. It’s another fact that I am a lucky girl. Positive thinking will bring a positive result, that’s what I always believe.
We had an early dinner @ a nice resto and enjoying the sunset.
Day # 3
Sunday, May 30th, 2010
Destination : Semak Daun (Smack Down) island, Go back Home
Snorkeling time.
My sister and I met Mad & Abel’s group at their home stay. We’re all 12 people, in total. Nice, we only have to pay 75 thousand/person for all (snorkeling equipment, live vest, Google, boat renting and lunch included).
First, we went to small island nearby and learned how to do snorkeling. Mad showed & gave direction on how to wear the equipment. He also taught us to snorkel. After learning for about 30 minutes, the boat took us to the middle, where we can only see water and water.
One..
Two..
Three..
Some men jump off from the boat, just before the guide put down the anchor. I was so excited, then eagerly jump and…. Oh God…. Subhanallah.
I can’t say a word. It’s so beautiful… and scary at the same time.
It’s my first experience on snorkeling and..WOOW, I felt… completely small.
So small….
When you see the sea, seem it has no border, well… the inside is even more.
It is enormous.
Colorful nemos almost everywhere and all sea things that I usually see in on tv, now they are swimming with me. I felt like in the giant aquarium.
Subhanallah…Subhanallah…Walilah hilhamdu..
After spending more than an hour snorkeling, we were heading to Semak Daun Island. There’s not much to describe. It’s simply beautiful. The most special is the gentle white sand around the island and if we go further, we’ll find small woods inside. Good place for camping.
At around 12, we have already arrived at Pramuka Island. After having lunch, we were packing all of our stuffs and go back to Jakarta by a full loaded ship. He he… what a great vacation…!! Can’t barely wait to go again.
Hey nemos…. I’ll be right back…!! See youuuu……………….
Sabtu, 09 April 2011
Love
I may not talk that much to you
You will find me waiting
every minute...
just to listen to every piece of your heart say
I love you.
You may be out of my sight
but not out of my heart
You may be out of my reach
but not out of my mind
I may mean nothing to you
but you always be special to me
In my life,
I learn how to love..
to smile,
to be happy,
to be strong,
to work hard,
to be honest,
to be faithfull,
to forgive,
but I couldn't learn how to stop remembering you.
I love you more as each moments passed us by.
(source: you tube)
You will find me waiting
every minute...
just to listen to every piece of your heart say
I love you.
You may be out of my sight
but not out of my heart
You may be out of my reach
but not out of my mind
I may mean nothing to you
but you always be special to me
In my life,
I learn how to love..
to smile,
to be happy,
to be strong,
to work hard,
to be honest,
to be faithfull,
to forgive,
but I couldn't learn how to stop remembering you.
I love you more as each moments passed us by.
(source: you tube)
Senin, 28 Maret 2011
ASA (2)
Dalam ragu
Tertunduk malu
Bisikku padaMU
Tuhan...
Aku yakin ...
Engkau
bukan hanya milik manusia-manusia yang merasa diri mereka suci
bukan hanya milik manusia yang baik-baik
yang senantiasa patuh
yang senantiasa taat beribadah
yang tidak pernah ingkar
seperti aku.
Tuhan....
Aku yakin
Kasih sayangMU meliputi diriku
Aku bisa rasakan itu
Walaupun aku hanyalah manusia hina
Cintaku masih sebatas kata
Dosaku menggunung tak terhingga
Tuhan,
Aku masih percaya padaMU
Engkaulaah tempatku mengadu
Tolonglah aku...
Rengkuhlah aku dalam dekapMU
Aku yakin pintu maafMU,
terbuka lebar untukku
karena...
Aku milikMU.
Tertunduk malu
Bisikku padaMU
Tuhan...
Aku yakin ...
Engkau
bukan hanya milik manusia-manusia yang merasa diri mereka suci
bukan hanya milik manusia yang baik-baik
yang senantiasa patuh
yang senantiasa taat beribadah
yang tidak pernah ingkar
seperti aku.
Tuhan....
Aku yakin
Kasih sayangMU meliputi diriku
Aku bisa rasakan itu
Walaupun aku hanyalah manusia hina
Cintaku masih sebatas kata
Dosaku menggunung tak terhingga
Tuhan,
Aku masih percaya padaMU
Engkaulaah tempatku mengadu
Tolonglah aku...
Rengkuhlah aku dalam dekapMU
Aku yakin pintu maafMU,
terbuka lebar untukku
karena...
Aku milikMU.
ASA (1)
Bulir bening hangat
Mengalir deras
Basahi pipi
Merobek-robek nurani
Salahku...
Dosaku...
Sesal tak terelakkan lagi
Semua sudah terjadi
Ketika semua mata menatap penuh benci
Ketika semua kata berisikan caci maki
Ketika mereka mulai menghakimi
Kemana ku harus berlari?
Ditepi gelisah
Berjejal amarah
Putus asa pun singgah
Aahh...
Aku hanya bisa pasrah
Tuhan... adakah KAU disana?
Mengalir deras
Basahi pipi
Merobek-robek nurani
Salahku...
Dosaku...
Sesal tak terelakkan lagi
Semua sudah terjadi
Ketika semua mata menatap penuh benci
Ketika semua kata berisikan caci maki
Ketika mereka mulai menghakimi
Kemana ku harus berlari?
Ditepi gelisah
Berjejal amarah
Putus asa pun singgah
Aahh...
Aku hanya bisa pasrah
Tuhan... adakah KAU disana?
Langganan:
Postingan (Atom)
